Henys Cake

.

KHUTBAH JUM’AT BULAN RABIUL TSANI

Share this:


KHUTBAH JUM’AT BULAN RABIUL TSANI
TEMA DAKWAH MENANGKAL SIKAP INDIVIDUALISME, MATERIALISME DAN BUDAYA HEDONISME

الحمد الله. الحمد الله الّذى جعل لكلّ شيئ سببا. وأرسل من السّمآء ماء إلى الارض وأنبت به حبّا ونبتا. أشهد ان لا اله الاّ اللهوحده لا شريك له شهادة تنجين قائلها يوم القيامة حسنا وحسبا. وأشهد انّ سيدنا محمّدا عبده ورسوله ألهادى الى امته صراطامستقيما. اللّهم صلّ وسلّم على سيدنا محمّدوعلى اله وصحبه أشرف الخليقة عجما وعربا.(امّا بعد) فيآايها الحاضرون رحمكم الله. اوصيكم ونفسى بتقّو الله فقد فازالمتّقون. واعلموا انّ الله تعالى خلق الانسان لطاعته وعبادته ولا يستطيع الأنسان لطاعته الاّ بالأقوات والأطعمات. ولا تحصلها الاّ بالابتغاء والإكتساب. فقد قال الله تغالى فى كتابه الكـريم. اعـوذ بالله من الشـيطان الرجــيم. بســـم الله الرّ حـــمن
الرّ حيم.ومامن دآبة فى الارض إلاّ على الله رزقها. ويتعلم مسـتقرها ومسـتودعهافي كـل كـتاب مّبــين.


HADIRIN JAMAAH JUM’AH RAHIMAKUMULLAH .........
Dalam kesempatan yang baik ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. dengan cara melatih pengendalian diri kita sendiri, lingkungan dan kemudian masyarakat dari kecenderungan hawa nafsu ke arah negatif. Sehingga kita dapat memenuhi tugas hidup kita sebagai “KHOIRO UMMAH” dalam rangka melaksanakan segala perintah Allah Azza Wa Jalla, menjauhi larangan – Nya dan senantiasa ta’at kepada Rasulullah SAW. mengikuti jejak hidup dan petunjuknya.


HADIRIN SIDANG JUM’AH YANG DIMULYAKAN ALLAH ........
Pandangan orang tentang arti hidup selalu berbeda. Pertanyaan seperti; untuk apa hidup bagi manusia, selalu berbeda jawabannya. Bagi umat Islam, hidup bukanlah swekedar untuk hidup. Hidup (di dunia) bukanlah tujuan. Hidup dan kehidupan manusia merupakan proses dan tahapan yang akan berakhir di dunia dengan datangnya kematian. Sebagai proses, kita menyadari bahwa; hidup tentu memerlukan berbagai sarana. Sarana yang paling mendasar secara fisik adalah aspek kesehatan dan aspek ekonomi. Perbedaan hidup manusia dengan hidup yang dialami oleh makhluk lain, hanyalah terletak pada nilai dan makna. Sedangkan nilai dan makna hidup manusia ditentukan oleh aspek spiritual. Hal ini tersirat dalam firman Allah Ta’alaa yang berbicara tentang “etos kerja” Qur’an Surat; Al Jumu’ah ayat 9 :

فإذاقضيت الصلاة فانتشروا فىالارض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلّكم تفلحون . (الجمعة : 9)

Artinya : “Maka, apabila telah ditunaikan sembahyang, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung.”

Esensi makna yang terkandung di dalam ayat di atas, tersirat adanya kecenderungan pada titik tekan ikhtiyar, usaha dan bekerja yang sama sekali tidak mengesampingkan aspek-aspek spiritual sebagai pengendalian “nilai dan makna hidup”, bagi manusia.

Model pembangunan yang difokuskan pada pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, tampaknya cenderung memisahkan atau mengasingkan aspek spiritual tadi. Alienasi antara keduanya tercermin pada gerakan dan pelembagaan agama yang tidak menyatu dengan aktifitas pelembagaan ekonomi. Keadaan seperti ini akan mengacu pada pembentukan nilai dan norma ekonomis. Ini berarti bahwa; ekonomi merupakan sistem nilai tersendiri. Akibatnya, gerakan ekonomi berhadapan secara diametral/terpisah dengan sistem nilai spiritual. Pada gilirannnya gerakan ekonomi berjalan bebas tanpa spiritualitas dan meluncurkan sikap kompetitif yang bila tidak dikontrol oleh apek spiritual (nilai-nilai rohania, moralitas dan kejiwaan) akan cenderung ke arah pembentukan atau terbangunnya faham individualisme, materialisme dan konsumerismenya yang pada akhirnya tercipta budaya “Hedonisme” yaitu ‘pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama dalam hidup.’ Dan yang jelas faham dan budaya semacam ini bertentangan keras dengan “Etika berekonomi” dan moralitas dalam Islam.

HADIRIN JAMA’AH JUM’AH YANG TERHORMAT .......
Disinilah pentingnya media dakwah yang partisipatif yang secara interaktif dapat mendekatkan masyarakat pada kebutuhannya, yang juga secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi peningkatan nilai-nilai keberagamaan umat. Dalam kaitan ini, Allah SWT. menyerukan perintah berdakwah dalam kerangka “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar” melalui firmannya, Qs. Ali Imran ayat 104 :

ولتكــم منكــم امّة يدعــون الى الخير ويأمرون بالمعـروف وينهون عن المنكر. وأولئك هم المفلحون . (ال عمران : 104)


Artinya : “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dan dalam kerangka operasional pelaksanaannya, sebagai juklak etika dakwah yang ideal, konseptual yang partisipatif, Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an :

اذع الى سبــيل ربّك بالحكــمة والموعــظة الحســـنة وجـــادلهــــم بالتى
هي احسن . إنّ ربّك هو اعلم بمن ضل عن سبيله. وهو اعلم بالمهتدين (النحل : 125)

Artinya : “Suruhlah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (perkataan yang tegas dan benar) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang Maha Mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan – Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang menadapat petunjuk.” (Qs. An Nahl : 125)

Dari dua ayat di atas sebagai dogma ajaran formal dapatlah difahami bahwa; dakwah adalah berarti mengundang, mengajak dan mendorong sasaran (manusia) untuk melakukan pekerjaan ma’ruf dan melarang bertindak mungkar. Dapat juga dakwah diartikan mengajak sasaran ke jalan Allah, yakni agama Islam.

Ketika dinamika kemasyarakatan mengalami perubahan yang sedemikian dahsyat, sebagai akibat proses modernisasi yang sarat dengan dominasi ekonomi, kemajuan tekhnologi, melubernya informasi dan tingginya tingkat mobilitas/perpindahan manusia dalam bentuk urbanisasi misalnya, jelas akan mengubah pola dan wajah perilaku masyarakat menjadi individualistik, materialistik dan tumbuh dan berkembangnya budaya “Hedonisme” yang tentunya akan meruntuhkan struktur sosial yang sudah mapan.

“Kegelisahan sosial” yang diakibatkan oleh alih tehnologi material yang tidak akan behenti dengan segala dampaknya inilah, yang kemudian menuntut adanya strategi alih tekhnologi sosial, melalui rekayasa pola pengembangan dakwah yang ideal efektif yang secara interaktif dapat meningkatkan kualitas keislaman masyarakat, mewujudkan keseimbangan dimaksud tentunya mengacu pada tercapainya kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat nanti.

HADIRIN SIDANG JUM’AH YANG BUDIMAN ........
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah; jika tuntutan dakwah itu harus mencapai sasaran dan target yang sedemikian beratnya, maka harus dengan apakah kita membendung berkembangnya faham individualisme, materialisme dan tumbuhnya budaya hedonisme itu ......?

Saya kira konsep yang paling mendasar adalah : bahwa dakwah harus dapat menyadarkan mansia dari; pertama : mamahami kembali makna dan tujuan hidup yang sebenarnya, dan yang kedua : adalah menanamkan pandangna yang tetap menganggap bahwa yang namanya “dunia”, kebendaan dan kekayaan materi “merupakan realitas yang terendah.” Tapi perlu diingat bahwa Islam sebagai agama fitrah, sebagai ajaran kerohanian tetap memegang prinsip pada pandangan yang menyatakan “Realita spiritual yang batiniah, bagaimanapun tidak dapat dianggap terpisah dengan realitas sosial yang lahiriah.” Oleh karenanya agama Islam tetap meletakkan kekayaan materi pada proporsinya.

Kita menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang berdarah daging. Tapi, karena hakikat manusia itu bukanlah ada pada daging dan darahnya, melainkan pada rohaniahnya, maka janganlah mansuia memandang materi ansih sebagian tujuan hidupnya. Mencari kekayaan materi dan menguasainya semata-mata untuk keduniaan, dikecam sebagai kebodohan yang nyata. Pandangna sekularisme dan metrialisme yang mempertuhankan benda, begitu jelas mendapatkan kutukan Al Qur’an Allah berfirman :

ألهكم التكثر. حتّى زر تم المقابر


Artinya : “Berlomba untuk menumpuk kekayaan telah membuat kalian-kalian lupa (akan hakikat hidup), sampai kalian masuk keliang kubur.” (Qs. At Takatsur : 1 dan 2)

Pada bagian yang lain, Allah kembali menegaskan kutukannya, dan Diapun berfirman dalam Qs. Al Lumazah ayat 1, 2 dan 3 :

ويل لكل همزة لمزة الذي جمع مالا وعدده يحسب ان ما له اخلده


Artinya : “Celakalah setiap orang yang mengumpat dan mencaci; yang menghimpun materi dan menghitung-hitungnya. Dikiranya kekayaan itulah yang akan mengekalkan hidupnya.”

وماالحيوة الدّنيا إلا متع الغرور (العمران : 185)

Artinya : “Bukanlah kehidupan duniawi itu, semata-mata kesenangan yang menipu ?”

Kata-kata “DUNYA” disebut lebih dari seratus kali dalam Al Qur’an, hampir kesemuanya dalam konteks mengecam, minimal melecehkan orang-orang yang menganggap kenikmatan dan prestasi duniawi sebagai kenikmatan dan prestasi yang sejati. Demikian juga kata-kata “MAL atau AMWAL” disebutkan sekitar 78 kali dalam Al Qur’an lebih banyak memberikan “peringatan” agar manusia tidak sampai tertipu dengan memandang kekayaan materi sebagai tujuan, disatu sisi dan pada pihak yang lain Al-Qur’an memberikan “dorongan” agar manusia bergegas menggunakan kekayaannya sebagai alat untuk mencari kebahagiaan sejati di akhirat. Lalu caranya bagaimana ? Allah Azza Wa Jalla memberikan petunjuknya melalui firmannya dalam Al Qur’an Surat As Shaff ayat 10 dan 11 :

يآايها الذّين آمنو هل أدلكم على تجارة تنجيكم من عذاب أليم. تؤمنون با لله ورسوله وتجاهدون فى سبيل الله بأموالكم وانفســكـــم. ذلكـــم خير لكــم إن كنتــم تعلـــــــــمون.


Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ? (yaitu) kamu beriman kepada Allah, Utusannya dan berjuanglah di jalan kebaikan dengan harta dan potensi pribadimu. Itulah yang lebih baik bagimu, sekiranya engkau tahu.”

Mudah-mudahan kita senantiasa mendapatkan bimbingan, Taufiq serta hidayah dari Allah SWT. Amin 3x Yaa ...... Robbal ‘Alamin !

صدق الله سبحانه وتعالى على لسان نبيه الأمين. واذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون. أعوذبالله من الشّيطان الرجيم. وأنفقوا فى سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم الى التهلقة. واحسنوا ان الله يحبّ المحسنين. بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم. وننعى واياكم بمافيه من الأياة والذكر الحكيم. وتقـــبل منيّ ومنكم تلاوته إنه هو السّميع العليم.
Share this:

Artikel Terkait Lainnya:

0 comments:

Poskan Komentar

Sobat Bisa berkomentar dan mencantumkan link Sobat,Blog ini Dofollow Blog Community

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More